Menuntut Ilmu Sampai ke Negeri Konstantinopel

Menuntut Ilmu Sampai ke Negeri Konstantinopel

Zahra berdiri di depan Masjid Sabanci Cami, Turki. Dia masih mengenakan seragam wisuda dengan toga yang menghias kepala. Zahra berdiri sedikit ke samping arah kanan dengan wajah menghadap ke depan. Sedangkan tangan kanannya memegang toga. Menara-menara berwarna putih menjulang tinggi di belakangnya.

Tersenyum. Dan…jepret! Kilat flash kamera menyambar.

Muslimah bernama lengkap Zahra Nurul Qasmira Zamal ini sengaja berfoto di depan masjid ikon kota Andana, Turki itu. Dia ingin mengabadikan momen terindah sekaligus bersejarah itu dalam hidupnya. Diwisuda sebagai sarjana dari Cukurova University, Turki. Itu kenapa dia rela datang ke tempat itu sekadar untuk berfoto.

“Afwan, ustaz. Bukan untuk narsis. Tapi foto itu salah satu dokumentasi saya belajar di Turki yang tersisa. Foto lainnya pada hilang,” katanya.

Awalnya Zahra tak terpikir bisa berkuliah, dan meraih gelar sarjanan dari negara yang dipimpin oleh Recep Tayyib Erdogan. Ketika itu Zahra hanya fokus belajar di SMA Semesta Semarang. Hanya saja, saat kelas 11 dia ditawari program student excange ke Turki. Sebenarnya, Zahra ingin mengambilnya. Namun, karena Turki saat itu masih sangat sekular dan membatasi penggunaan jilbab, Zahra menolak.

Tawaran kembali datang pada saat kelas 12. Bukan program student exchange. Namun melanjutkan kuliah ke Turki. Setelah dipikir-pikir, tawaran itu diterima. Semua persiapan seperti pasport, berkas, dan lainnya disiapkan. Seluruh biaya persiapan, dan berkas dari kantong sendiri. Termasuk tiket terbang ke Turki.

Sesampai di Turki Zahra mengikuti tes masuk Univeritas. Diterima. Setelah resmi menjadi mahasiswi, biaya kuliah Zahra sepenuhnya ditanggung. Mulai sewa rumah, air, listrik, bahkan makanan pun telah disediakan. Tak hanya itu, Zahra juga dapat uang saku sebesar 150 TL. Dulu, katanya 1 Lira senilai Rp. 5000. Sekarang sekitar Rp. 2000. Beasiswa itu didapatnya dari yayasan. Di pertengahan jalan, yayasan ini jatuh. Zahra dapat beasiswa lagi dari KBRI Turki.

Menurut Zahra, biaya hidup di Turki relatif cukup mahal. Living cost-nya standar untuk golongan masyarakat menengah ke atas.

“Standar sih dengan pendapatan orang sana,” jelasnya.

Meski begitu, ada barang atau bahan makanan yang relatif lebih murah dibanding di Indonesia. Seperti roti, telor, dan ayam. Sedangkan untuk beras, seafood, dan bahan makanan lainnya relatif lebih mahal. Apalagi barang-barang elektronik. Jauh lebih mahal. Penyebabnya karena pajak barang elektronik di sana relatif sangat tinggi.

Zahra bersyukur bisa berkuliah di Turki. Meski negara itu sejak diubah oleh Kemal Attaturk menjadi negara sekular, dan anti terhadap Islam, seperti halnya pelarangan pemakaian jilbab. Namun, bagaimana pun Turki memiliki sejarah Islam yang sangat panjang, dan penting. Di sini dulu terdapat kekhalifahan Turki Usmani. Konstatinopel sendiri ditaklukkan oleh Panglima Al-Fatih dan berhasil mengubah gereja Haghia Shopia yang dulunya gereja Bizantium menjadi masjid.

Terlebih lagi angin islamisasi di Turki semakin kencang. Angin perubahan itu dihembuskan oleh Erdogan sejak beberapa tahun terakhair. Seperti yang baru saja terjadi, masjid Aya Sofya yang sekitar 86 tahun diubah menjadi museum kini difungsikan lagi menjadi masjid. Jutaan rakyat Turki berbahagia. Mereka menyambut dengan suka cita. Tak hanya di Turki, kebahagiaan ini juga mengalir hingga ke Tanah Air.

“Alhamdulillah rezeki kuliah saya di Turki. Jika ditanya ingin kuliah di mana, mungkin Turki tetap jadi jawaban yang sama,” selorohnya sambil tersenyum.

Di Cukurova University Zahra mengambil jurusan classroom teaching. Jurusan ini sengaja diambil karena Zahra bercita-cita ingin jadi guru. Jurusan classroom teaching ini sebenarnya agak berbeda dengan PGSD yang ada di Indonesia. Di univeritas ini, mahasiswa diajarkan bagaimana menjadi guru kelas dan wajib mengajar semua pelajaran dari kelas awal sampai lulus.

Keinginan menjadi guru karena terinspirasi dari guru SD-nya dulu. Tak hanya di SD, dia juga terkesan dengan wali kelasnya saat SMA. Begitu perhatian, dan baik. Wali kelas itu tidak hanya perhatian ketika SMA, bahkan sampai kuliah di Turki. Selalu menyemangati, dan menghubungi keluarga.

“I am so touched,” katanya.

Terinspirasi dari kebaikan dan kepedulian gurunya, Zahra ingin mengikuti jejak mereka. Selain itu juga karena menjadi guru banyak pahalanya. Ilmu yang diajarkan kepada siswa akan menjadi amal jariah yang mengalirkan pahal sampai kapan pun.

Karena itu, menurut Zahra, guru bukan sekadar mengajar. Tapi yang jauh lebih penting dari itu membimbing generasi pelanjut menjadi pribadi yang baik, shalih, berbakti, dan berguna bagi bangsa. Meski begitu tak mudah menjadi guru. Banyak tantangannya. Terlebih guru SD. Harus lebih sabar, dan telaten mendidik.

Zahra sekarang menjadi guru di SD Al-Imam Islamic School Balikpapan. Muslimah kelahiran asli Kota Balikpapan ini bergabung dengan SD yang terletak di kompleks Masjid Namirah Balikpapan Baru ini mulai awal semester tahun ajaran baru 2020. Dia berharap, di tempat yang baru ini dia bisa mendidik siswa-siswi menjadi generasi Islam penerus masa depan bangsa. Aamiiiin.

Selamat bergabung, Ustazah Zahra.

Leave a Reply