Mendidik Generasi Surgawi dengan Menjaga Fitrah

Mendidik Generasi Surgawi dengan Menjaga Fitrah

SD-SMP Al-Imam Islamic School Balikpapan mengadakan webinar parenting “Mendidik Generasi Surgawi” pada Sabtu, 10 Oktober lalu. Acara yang diadakan melalui Zoom ini diisi oleh Ustaz Mohammad Fauzil Adhim. Selain via aplikasi Zoom, webinar juga disiarkan secara langsung oleh radio IDC FM, dan juga via streaming Youtube di kanal AISBa Tv.

Sebelumnya, ada sekitar 700 lebih yang mendaftar secara online dan mengisi google form registrasi. Jumlah ini di luar estimasi panitia yang awalnya hanya menarget 500 peserta—termasuk orangtua siswa. Para peserta bukan saja berasal dari Balikpapan, Kaltim. Tapi juga dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sulawesi, Bengkulu, hingga Sumatera Barat.

Karena saking banyaknya peserta, panitia sampai menambah kuota participant Zoom. Yang awalnya hanya 500 participant menjadi 1000 participant.

“Kami ucapkan banyak terima kasih kepada Ustaz Fauzil Adhim yang berkenan mengisi acara ini dan juga kepada seluruh peserta yang hadir mengikuti acara ini,” tutur Ketua Yayasan Al-Imam Madinatul Iman Balikpapan, Ir. H. Muhammad Utama Jaya dalam sambutannya.

Acara webinar yang baru pertama kali diadakan di masa pandemi ini dimulai pukul 07.30 – 09-30 Wita atau berlangsung sekitar dua jam.

Ustaz Fauzil—sapaan akrabnya—dalam materinya menjelaskan cara mencetak generasi surgawi. Menurut pakar parenting islami ini, orientasi dalam mendidik anak seharusnya adalah surga. Sebagaimana ayat Al-Qur’an, para orangtua diperintahkan untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

“Inilah tugas dan tanggung jawab orangtua,” tegasnya.

Namun, para orangtua tidak perlu bingung mencetak generasi surgawi itu. Caranya sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan hadis. Tinggal dipelajari, dan dipraktikkan. Bahkan, tidak hanya itu, potensi sebagai generasi surgawi juga telah diberikan kepada setiap manusia.

Potensi itu disebut fitrah. Menurut penulis buku “Segenggam Iman Anak Kita” setiap anak yang dilahirkan ke atas muka bumi sesungguhnya dalam keadaan fitrah. Fitrah anak inilah yang harus dijaga, bukan justru diubah apalagi diganti. Sayangnya, seiring besar, tidak sedikit orang tua yang justru mengubahnya.

Karena itu, katanya lagi, orangtua harus mengetahui definisi fitrah secara baik, dan benar. Caranya, yaitu dengan merujuk definisi secara fitrah secara syar’i, bukan pada definisi-definisi bahasa yang dibuat-buat manusia.

“Arti atau makna secara syar’i harus didahulukan daripada makna secara bahasa,” ujar ustaz Fauzil sambil mengutip istilah bahasa Arabnya.

Lebih lanjut jelasnya, fitrah bisa berarti perjanjian –mitsaq—islam, dan hanif atau lurus. Jadi, seorang anak yang dilahirkan ke dunia, sesungguhnya adalah dalam keadaan fitrah seperti itu. Karena itu, orang tua berkewajiban menjaga fitrah anak sebagai tanggung jawab orang tua yang diamanahi anak oleh Allah.

Dengan begitu, anak yang tumbuh, dan besar di atas fitrah Islam hingga akhir hayatnya, InsyaAllah akan menjadi generasi surgawi.

Di penghujung acara, dibuka sesi tanya jawab. Banyak pertanyaan masuk. Dari berbagai daerah. Baik yang masuk via kolom chat Zoom atau pun group WhatsApp webinar parenting. Sayang, karena keterbatasan waktu, hanya dua pertanyaan yang bisa terjawab: pertanyaan dari peserta asal Balikpapan, dan Bengkulu. Setelah itu, ustaz Fauzil harus undur diri karena mengisi acara serupa di Medan, Sumatera Utara.

Leave a Reply