Bercita-Cita Jadi Ulama

Bercita-Cita Jadi Ulama

“Apa cita-citamu kelak kalau sudah besar, Nak?”
Tak jarang jika pertanyaan itu diajukan kepada murid-murid zaman sekarang, jawabannya banyak dan macam-macam. Ada yang ingin jadi presiden, dokter, menteri, pilot, insinyur, bahkan astronot. Jika ditanya lagi kenapa mau menjadi seperti itu? Jawabannya simpel. Karena menjadi presiden, dokter, menteri, dan lainnya itu keren. Kerjanya enak, terkenal, dan banyak duitnya. Karena itu, tak heran jika jarang pelajar sekarang yang bercita-cita jadi ulama.
Nah, dari yang sedikit itu, ternyata ada salah satu murid SMP AISBa yang bercita-cita ingin jadi ulama. Siapa dia? Dia adalah Muhammad Thoriq Farghani Akbar. Putra dari pasangan Dani Umbaran Daffan, dan Gusti Astina Yulinda ini pun sudah memasang strategi untuk mewujudkan impiannya.
Usaha itu pun dia buktikan selama ini. Katanya, dia lebih banyak belajar, dan baca buku ketimbang main game atau pegang handphone. Siswa yang akrab disapa Thoriq ini juga rajin mempelajari bahasa Arab. Menghafal kosa kata, menerjemahkan, dan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari di sekolah.
Setiap kali berjumpa dengan guru yang bisa bahasa Arab—seperti ustaz Fadly Ihsan, Ustaz Abdul Rofik, Ustazah Hanifah, dan lebih-lebih Ustaz Abdul Hannan—guru bahasa arabnya yang berasal dari Pakistan—dia pun tak segan-segan untuk berbicara dengan bahasa Arab.
Berkat keuletan dan kegigihannya dalam belajar, kemampuan bahasa Arabnya berkembang pesat. Thoriq jika berbicara bahasa Arab sangat fasih. Dia juga sering ditunjuk untuk menampilkan pertunjukan bahasa Arab di berbagi acara, seperti Students’ Day tahun lalu, dan juga lomba.
Belum lama ini Thoriq ditunjuk sekolah untuk mengikuti lomba pidato bahasa Arab yang diadakan oleh Sekolah Cahaya Rancamaya, Bogor. Meski itu debut perdananya mengikuti ajang lomba tingkat nasional, Thoriq berhasil meraih juara 3.
“Alhamdulillah, akhirnya juara. Padahal, saat pidato saya merasa grogi. Nggak nyangka saja juara. Tapi setelah diumumin dapat juara, saya senang banget. Kaget,” terangnya.
Selain sibuk belajar, Thoriq juga aktif di OSIS. Dia ditunjuk sebagai ketua bidang bahasa. Tugasnya mengembangkan dan menggerakkan bahasa di lingkungan sekolah. Dia kini duduk di kelas 9 SMP AISBa. Setelah lulus, dia akan melanjutkan ke Pesantren Al-Irsyad, Salatiga, Jawa Tengah.
Langkah itu dilakukan demi mewujudkan cita-citanya di masa depan untuk menjadi ulama. Nantinya setelah lulus dari pesantren, dia rencananya akan melanjutkan kuliah ke Universitas Islam Madinah.
“Mohon doanya agar cita-cita itu terwujud,” harapnya.
Menurutnya, ada dua ulama yang diidolakan. Pertama, Syeikh Ali Jaber, ulama asal Madinah yang telah tinggal di Indonesia yang belum lama ini tutup usia. Menurutnya, mendiang Syeikh Ali Jaber da’i yang lembut dan selalu memotivasi orang untuk menghafal Al-Qur’an.
Kedua, adalah Imam Syafi’i. Di dunia—khususnya di Indonesia—Imam Syafi’i sudah tidak asing lagi. Ilmunya begitu luas—terutama dalam bidang fiqih. Dia juga telah menulis banyak kitab yang jadi rujukan umat Islam di seluruh dunia. Kita doakan semoga Thoriq kelak jadi ulama penerus dua ulama yang diidolakannya itu. Aamiiin.
*Nauval Azzura Rahimy. Editor: Syaiful Anshor.
*Tulisan ini juga dimuat Majalah An-Najah edisi April 2021.

Leave a Reply