Menjadi Orangtua Dewasa

Menjadi Orangtua Dewasa

*Yosica Ferinda, orangtua siswa SD-SMP AISBa

Saat ini, saya adalah orangtua dari tiga putri dengan fase pertumbuhan yang berbeda. Mencoba mempelajari fase perkembangan mereka, kadang kala juga masih terasa salah melangkah. Ternyata tidak mudah menjadi orangtua, dan harus terus belajar memperbaiki diri, harus bisa menjadi orang tua yang dewasa bagi anak-anak agar mereka bisa tumbuh sesuai fitrahnya.

Menjadi orangtua yang dewasa itu penting agar bisa mendidik dan mendampingi anak hingga mereka dewasa. Kita tidak bisa menyamakan pola asuh yang dulu pernah kita rasakan dengan pola asuh yang akan kita terapkan pada anak-anak kita. Seperti yang dikatakan Sayyidina Ali “Didiklah anakmu sesuai zamannya”.

TUA dan DEWASA berbeda. Menjadi TUA itu pasti, namun menjadi DEWASA itu pilihan. Bisa jadi, secara biologis seseorang sudah TUA, namun secara mental dan psikologi tidak. Nyatanya tak sedikit orangtua yang meluapkan emosi tanpa terkendali saat menghadapi anaknya yang sulit diatur hingga berakibat fatal.

Dewasa itu berkaitan dengan usia kematangan mental. Ada juga saat ini sudah tua secara biologis, namun masih bersikap kekanak-kanakan. Ketika anak tantrum, orang tua jadi ikut tanrum. Marahnya seperti anak kecil. Mungkin selama ini yang kita tahu, marah itu mengomel tanpa kendali. Padahal kita bisa memilih cara marah yang elegant, dengan tujuan marahnya mengingatkan hal yang salah dan memperbaiki perilaku orang lain agar lebih baik.

Salah satu indikasi orang yang belum dewasa di era digital adalah di saat ngambek maka akan left grup atau curhat di sosmed. Dalam pola pengasuhan, ketidak dewasaan ini hanya meluapkan emosi, bahkan ada yang membuat anak menjadi korban kemarahan yang tidak terkendali dari orang tua.

Orang tua adalah Role Model Anak. Saya kutip dari bunda Aniq Al Faqiroh, seorang trainer parenting, “Dahulukan tobat sebelum obat”. Bisa jadi anak salah mendengar, tapi anak tidak pernah salah mencontoh. Dan contoh terdekat adalah orangtuanya, karena sebagian besar waktu anak adalah bersama orang tua.

Marahlah yang baik, bukan karena emosi, yang jelas mana yang salah dan ingin dibenahi. Ketika kita ingin anak kita bahagia, maka kita dulu yang harus bahagia. Kita dulu yang harus melakukan, baru kita akan bisa memberi contoh pada anak-anak. If you want your children to be happy, you go first.

Anak belajar dari kehidupan:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

“Dunia saat ini sedang berkembang pesat dalam segala hal, kecuali dalam hal kesehatan mental” (Martin Seligman)

Semakin canggih perkembangan teknologi saat ini, tak membuat hidup manusia menjadi lebih tenang dengan semua kemudahan, melainkan malah membuat manusia lebih mudah stress. Banyak orang menggantungkan pada angka-angka: saldo rekening, jumlah follower, dan jumlah subcriber.

Namun, naiknya angka-angka tadi tak disertai dengan naiknya sikap baik. Naiknya angka dari sikap arogan, sikap tak acuh, sikap hormat dan kesehatan mental malah menurun.

Untuk menjadi orangtua yang dewasa, salah satu caranya adalah menjadi orangtua tua yang rileks, yang tenang, melawan stress dan optimis “everything’s gonna be oke”. Dengan tidak menjadi orangtua yang mudah panik, maka kita bisa mengendalikan emosi saat anak mengalami pangalaman yang negatif dalam hidupnya.

Dengan memahami bahwa anak-anak juga butuh pengalaman jelek atau negatif, ini akan membuatnya kuat menghadapi kehidupannya nanti. Ini akan menjadikan anak-anak menjadi pribadi yang tahan banting. Mereka juga perlu sedikit merasakan pahitnya hidup, asal orangtuanya tetap tenang.

Banyak yang terjadi, saat anak berkelahi di sekolah maka orangtua yang turun tangan membela anak. Justru ini akan melemahkan mental anak. Mereka jadi tergantung pada orangtua dan tidak berani menyelesaikan masalahnya. Sebagai orangtua yang dewasa, jangan bandingkan anak kita dengan anak lain bahkan dengan saudara kandungnya. Karena kelak mereka akan menghadapi kehidupannya sendiri. Tugas orang tua adalah mengarahkan dan menjaga fitrah.

Orang dewasa, adalah tau apa yang  mereka mau. Jangan sampai anak menjadi korban ambisi orangtua. Tak sedikit orangtua hanya menjadikan anak sebagai piala yang bisa dipamerkan kepada orang lain sehingga anak menjadi tertekan. Semoga kita bisa menjadi ayah bunda yang dewasa, yang mampu ijinkan anak kita menjadi manusia seutuhnya sesuai fitrah yang diberikan Allah padanya. Aamiin.

*Tulisan diambil dari Majalah An-Najah edisi April 2021

 

Leave a Reply