Suka Duka Belajar Online [LAPSUS]

Suka Duka Belajar Online [LAPSUS]

Jarum jam menunjukkan pukul 07.15 Wita. Jadwal pembelajaran SHOD tinggal 5 menit. Ustaz Usman Ladullah berada di depan laptop. Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir ini menghidupkan laptop. Mouse di tangan kanan digerakkan. Kursor kecil itu bergerak cepat menuju aplikasi zoom. Tombol Sign In ditekan. Aktif.

Beberapa siswa telah bergabung. Mereka berada di waiting room menunggu di-admit. Rupanya, sebelum menyalakan aplikasi itu, mereka sejak tadi telah join. Ketika sudah di-admit, satu persatu siswa mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum, ustaz Usman.” Suara itu terdengar dari speaker laptop. Jelas. 

Pagi itu, Ustaz Usman mengajar SHOD. Kata ini bukan huruf hijaiyah. Melainkan akronim dari sholat dhuha dan dzikir. Waktunya setiap pagi. Dari Senin sampai Kamis. Sedangkan hari Jumat pagi dipakai latihan ceramah siswa. Jamnya dari pukul 07.20-07.50. Ustaz Usman tidak mengajar sendirian. Dia ditemani Ustaz Lukman Hakim.

Keduanya mengajar di kelas 1 ikhwan. Jumlah siswanya 15 orang. Koordinator Diniyah, Ustazah Rifka Annisa menempatkan mereka di kelas ini karena tergolong sulit. Apalagi, kelas satu dengan pembelajaran online. SHOD adalah kegiatan wajib bagi setiap kelas, mulai kelas 1 sampai 6 sebelum pembelajaran yang lain dimulai.

“Untuk materi pembelajaran SHOD masih seputar hafalan doa-doa shalat, dan zikir pagi,” kata Ustaz Lukman Hakim yang juga wali kelas 5 Pa.

Menurut alumni UNIDA Gontor ini, mengajar online berbeda dengan offline. Apalagi mengajar siswa kelas satu yang belum pernah bertemu. Para siswa harus banyak beradaptasi. Termasuk saat mengajari mereka gerakan, doa-doa shalat, dan zikir.

“Susahnya mengontrol gerakan shalat siswa. Posisi sujud, rukuk, tahiyat, dan sebagainya. Kita tidak bisa melihat secara langsung satu persatu,” ujarnya.

Meski begitu, keduanya tidak menyerah. Mereka menjelaskan dengan detail, dan gamblang posisi, serta gerakan shalat. Bahkan kadang harus mempraktikkan berkali-kali di depan layar laptop. Bacaan shalat juga demikian. Harus dihafal satu persatu. Dari takbir hingga salam. Diulang terus menerus. Siswa digilir membaca satu persatu. 

Alhamdulillah, kini banyak yang bisa shalat. Ada tiga siswa yang berani jadi imam shalat. Mereka sudah tahu gerakan, dan hafal bacaan shalat dengan baik,” jelasnya.

Perbedaan mengajar online dan offline juga dirasakan Ustaz Nur Hidayat, guru science SMP AISBa. Menurut Ustad Dayat like or dislike, di masa pembelajaran online ini baik guru, dan siswa harus up-date berbagai aplikasi, dan tekhnologi pembelajaran. Jika tidak, bisa-bisa pembelajaran tidak berjalan dengan baik.

Ustaz Dayat pun mengaku menggunakan beragam aplikasi guna menunjang pembelajaran. Seperti Google Meet, Zoom Cloud Meeting, dan berbagai aplikasi yang terdapat dalam Learning Management System (LMS) yang dibuat sekolah beberapa waktu lalu.

“Saya usahakan seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online. Baik assigment, assessment, dan juga controling siswa. Semuanya terintegrasi,” tutur alumni Universitas Muhammadiyah Purwerjo, Jateng saat acara Edutalk di IDC FM awal Februari lalu.

Pembelajaran berbasis tekhnologi sangat membantu. Meski pembelajaran online, siswa tetap dapat memahami pelajaran, dan mencapai kompetensi. Meski dengan kadar yang berbeda-beda. Tergantung kemampuan siswa.

“Setidaknya target kompetensi dasar (KD) esensial yang ditetapkan di masa pandemi ini bisa tercapai,” pungkasnya.    

          Optimisme di Kala Pandemi

Ustaz Rahmat Romadhan terlihat sibuk. Hampir setiap hari, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD AISBa ini berangkat ke sekolah. Padahal, guru-guru yang lain pergi ke sekolah sesuai jadwal piket. Sekali sepekan. Selebihnya mengajar secara online di rumah.

Datangnya Ustaz Rahmat ke sekolah setiap hari ini bukan tanpa alasan. Dia, dan Kepala SD AISBa, Ustaz Randi Patajangan punya tugas berat: menyediakan pelayanan pendidikan di masa pandemi yang berkualitas. Keduanya intens berdiskusi.

Pembelajaran online memang mengubah banyak hal. Sebab, pembelajaran online dan offline sengat berbeda. Tidak pernah bertemu. Hanya via berbagai aplikasi pembelajaran, seperti Learning Management System (LMS), Zoom, Google Meet, dan sebagainya. Mau tidak mau banyak hal yang harus disesuaikan. Seperti kurikulum, standar kompetensi, dan waktu belajar.

“Ada banyak perubahan. Salah satunya di materi pembelajaran. Dari 100 persen sekarang setidaknya berkurang menjadi sekitar 82 persen,” terangnya.

Tak hanya dalam presentase materi, jam mengajar juga mengalami perubahan. Hanya saja tidak banyak. Hanya dua jam pelajaran saja. Satu jamnya sebanyak 30 menit. Dari awalnya 10 jam pelajaran saat offline, kini berubah menjadi 8 jam pelajaran setiap hari. Itu sudah termasuk jam SHOD, dan kelas akselerasi usai zuhur.

Perubahan juga terjadi pada kompetensi dasar. Khusus pada masa pandemi, ada KD Esensial yang dikeluarkan pemerintah untuk mata pelajara tertentu, seperti tematik, matematika, dan IPA. Sedangkan untuk pelajaran lainnya: bahasa Inggris, bahasa Arab, tahfidz, dan tilawati tidak berubah.

Menurutnya, dari sejumlah perubahan, dan penyempurnaan, capaian kompetensi anak tidak banyak mengalami perubahan. Dia juga berharap sinergitas orangtua selama masa pandemi ini. Sebab, proses pembelajaran ini tidak akan berhasil tanpa bantuan, dan kerjasama orangtua. 

InsyaAllah, sekolah sangat optimis untuk memberikan pendidikan terbaik dengan hasil terbaik untuk siswa-siswi,” pungkasnya.

Online learning awalnya juga tidak dimungkiri membuat orangtua siswa khawatir. Takut pembelajaran tidak berjalan normal seperti biasanya. Begitu juga yang dirasakan Bunda Lidia Puspasari. Orangtua dari tiga siswa SD-SMP AISBa—Nauval, Khalila, dan Nazran—ini takut anak-anak tidak bisa mendapatkan hasil maksimal. Namun, setelah dijalani, hasilnya tidak jauh berbeda.  

Alhamdulillah, capaian anak-anak kami masih baik, dan tidak berkurang,” ujarnya ketika dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Capaian itu menurutnya tidak terlepas dari sinergi antara sekolah, orangtua siswa, dan siswa sendiri. Bunda Lidia—sapaan akrabnya—mengontrol sekolah anak-anak di rumah mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

“Selepas sholat shubuh, anak-anak sudah mulai sarapan dan bergantian mandi,” terangnya.

Istri dari Aswar Yusdar ini juga membuat kesepakatan dengan anak-anak. Khususnya untuk bidang tahfidz. Jika hafalan mencapai target yang disepekati, akan diberi hadiah khusus. Sementara, untuk mengontrol perkembangan akademik, dia menggunakan Weekly Report—rapor pekanan—yang dibagi setiap hari Senin oleh wali kelas. Dari situ, nilai setiap pelajaran anaknya bisa dilihat.

“Jika ada nilai anak saya yang rendah atau kurang, segera bisa diketahui dan diingatkan. InsyaAllah, mereka akan sadar dan memperbaikinya,” jelasnya.

  • Writer: Syaiful Anshor
  • Diambil dari Majalah An-Najah Edisi Maret 2021

Leave a Reply