Sekolah Rasa Pesantren [LAPSUS]

Sekolah Rasa Pesantren [LAPSUS]

Assalamu’alaikum…

Salam itu diucapkan Naura Adany Busyro, siswi kelas 8 SMP AISBa. Suaranya terdengar ke setiap device peserta muhadhoroh melalui aplikasi Google Meet. Kamis pagi itu, Naura berceramah dengan bahasa Arab. Fasih, dan lancar.

Selain Naura, siswa lain yang dapat jadwal juga melakukan hal sama. Tidak hanya dapat tugas ceramah, tapi juga jadi MC, dan qari Al-Qur’an. Bahasa yang digunakan kalau nggak arab, ya inggris.

Kegiatan serupa juga dilakukan di SD AISBa pada hari Jumat. Programnya sama. Bedanya untuk kelas kecil, yang menyampaikan ceramah adalah ustaz dan ustazah.

Kata Kepala SMP, Abdul Rofik, konsep pembelajaran didesain seperti pesantren. Ada latihan ceramah, halaqoh tahfidz, hafalan hadis, zikir, dan shalat dhuha.

“Bedanya, kalau pesantren boarding, kalau ini full day. Tapi kegiatannya hampir sama. Ya, boleh dibilang AISBa itu sekolah rasa pesantren,” ujarnya.

Bukan hanya kegiatannya yang mirip, tenaga pengajarnya juga banyak alumni pesantren, seperti Pesantren Gontor, Pesantren Hidayatullah, dan Ma’had Aly Ar-Royah. Satu guru bahkan asal Pakistan, Ustaz Abdul Hannan. Hanya bisa berbahasa Arab, dan Inggris.   

Begitu juga yang dirasakan Dhanny Rotrika dan Hemlin. Orangtua dari Athar Darves Shaquelle I, dan Altaf Parves Shua I ini merasa kedua anaknya dapat pengetahuan yang seimbang.

“Alhamdulillah, ilmu diniyah dan akademik anak-anak semakin bertambah,” ujarnya. 

Senada dituturkan Akhmad Zain. Dia memilih AISBa untuk dua putranya— Habibie Calief Akhmad D, dan Althaf Ar-Raziq Akhmad D  karena karena program tahfidz dan tahsinya. Selain itu juga karena para pengajarnya banyak alumni perguruan tinggi Islam.

Leave a Reply