Hadiah Tak Terduga di Hari Raya [CERPEN]

Hadiah Tak Terduga di Hari Raya [CERPEN]

*Naurah Adani Busyra, siswi kelas 8 SMP AISBa

Allahu Akbar…Allahu Akbar. Allahu Akbar.  

Gema takbir membahana di malam Idul Fitri. Suara itu terdengar hampir dari setiap toa masjid dan diikuti bunyi beduk yang bertalu-talu. Jalan-jalan disesaki orang yang bertakbir keliling. Semua orang riang gembira. Tertawa dan tersenyum. Namun, di balik meriahnya malam takbiran itu, tampak anak kecil yang duduk di selasar masjid.

Anak itu bernama Ali. Dia duduk sambil memeluk kedua kakinya. Matanya sembab. Kedua pipinya basah. Nasib Ali tidak sebagus anak-anak lain di tempatnya. Anak kelas 5 SD ini berasal dari keluarga sangat sederhana.

Ahmad yang sejak tadi melihatnya tak tega dan langsung menghampirinya. Dia duduk di sebelah kawan baiknya itu dan mulai berbicara.

“Besok kan lebaran. Orang-orang pada bahagia. Kenapa Ali justru duduk sedih seorang diri di sini?” tanyanya.

Ali diam sesaat. Kepalanya yang sedari tadi tertunduk, lalu perlahan-lahan diangkatnya. Dilihatnya wajah sahabatnya lekat-lekat.

“Nggak apa-apa, Ahmad. Aku hanya berfikir kalau besok teman-teman semua pakai baju baru. Bagus-bagus dan harum. Sedangkan saya? Tidak ada!”

Ahmad balik terdiam. Bingung hendak mengucapkan apa.

“Aku juga sudah khatam Al-Qur’an, tapi nggak dikasih hadiah apa-apa sama Ayah dan Ibu. Padahal, anak-anak yang lain kan dapat hadiah,” ujarnya lagi.

Belum sempat Ahmad berbicara, tiba-tiba, terdengar suara aneh. Suaranya mirip bunyi kresek yang digesek-gesek. Ahmad dan Ali pun bergegas mencari sumber suara itu. Ternyata dari arah belakang masjid. Terlihat anak kecil sedang membantu neneknya memulung sambil tertawa riang dan berbincang santai dengan neneknya.

Ali dan Ahmad terdiam. Keduanya seolah tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Seorang anak kecil mengais sampah tapi tetap berbahagia. Tak ada keluh kesah. Justru bahagia.

“Lihat, Ali! Kamu masih mau mengeluh nggak dapat baju baru dan hadiah?” kata Ahmad.

Ahmad melanjutkan kalimatnya.

“Idul Fitri itu bukan soal baju baru atau nggak dapat THR. Emang kamu perna nemu hadits yang mengatakan kalau Idul Fitri wajib beli baju baru? Nggak kan?!”

“Ingat, Ali. Kamu masih lebih beruntung dibanding orang-orang yang makan aja susah. Kalau masalah khatam Al-Qur’an kamu harus berniat  karena Allah. Yakinlah Allah akan beri kamu hadiah yang jauh lebih indah dari apapun di dunia ini,” tambah Ahmad lagi.

Ali sadar dan langsung beristighfar, “Kalau begitu, kita bantu neneknya saja, yuk Ahmad!” ajak Ali bersemangat.

“Siap! Ingat, yah. Niatnya karena Allah bukan mau imbalan,” ledek Ahmad sambal tertawa kecil.

Setelah beberapa lama mereka membantu nenek dan anak kecil itu memulung mereka pun pulang kerumah masing-masing

“Ya Allah, bekerja sebentar saja sudah capek banget. Bagaimana Ayah yang bekerja setiap hari, ya? Aku malah nggak pernah bersyukur,” Ali membatin.

“Ali sudah pulang tarawih?” tanya Ayah.

Ali pun mengangguk dengan wajah letih.

“Kayaknya capek banget, yah?” ucap Ayah sambil meghampiri Ali dan menyodorkan sebuah amplop.

“Ini, Ayah punya sedikit rezeki buat anak Ayah yang shalih. Ali hebat loh sudah khatam lima kali bulan puasa ini,” ucap Ayah.

Sontak Ali terkejut. Wajahnya langsung bersinar, seakan rasa letih yang dirasakannya telah hilang. Jauh di dalam hatinya berkata, “Ternyata Allah langsung membalas kebaikan Ali yang diniatkan karena Allah.”

“Serius, Yah!? Ini buat Ali?!” tanyanya lagi seolah belum percaya.

“Iya, sayang. Bisa buat beli baju baru juga,” ucap ayah sambal membelai rambut Ali.

“Tapi ini terlalu banyak, Yah. Boleh nggak Ali beliin baju lebaran untuk nenek dan anak kecil yang memulung di belakang masjid tadi?” tanya Ali.

Ayah pun mengangguk sambal tersenyum.* 

Leave a Reply