Medio Juli 2024 lalu jadi momen penting dan bersejarah bagi siswa. Tidak hanya bagi siswa lama karena telah liburan cukup panjang, lebih-lebih bagi siswa yang pada tahun ajaran baru ini masuk AISBA: Daycare, TK, SD, SMP, dan SMA.
Pasti ini jadi momen menggembirakan. Bisa masuk sekolah lagi, bertemu teman dan guru lagi, belajar lagi, dan beraktivitas lagi seperti biasanya. Nah, untuk menyambut kedatangan siswa, AISBA mengadakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Tema MPLS tahun ini berbeda-beda. Kalau SD “Prestasiku Dimulai Hari ini” sedangkan SMP, “Achieving Blessings Together with The Teachers.” Kegiatan ini diawali dengan hari pertama siswa masuk sekolah: menyambut mereka dan mengadakan berbagai macam kegiatan.
Ada banyak kegiatan yang diadakan oleh seluruh unit sekolah. Dari indoor hingga outdoor. Dari games, olahraga, sampai edukasi. Nah, apa saja kegiatan dan kemeriahan kegiatan MPLS yang diikuti siswa? Berikut cuplikannya untuk pembaca AN-NAJAH.*
Sambutan, Finger Tree, dan Niat yang Lurus [1]
Spanduk berukuran cukup besar terpasang di ruang lobi masuk gedung AISBA di kawasan Bukit Cinta Damai, Balikpapan Kota Senin, 15 Juli ini. Di sisi atas spanduk yang dominan berwarna krem itu terdapat tulisan, “Ahlan Wa Sahlan Biqudumikum.”
Ucapan selamat datang berbahasa Arab itu ditujukan kepada seluruh siswa-siswi baru AISBA: Daycare, TK, SD, SMP, dan SMA. Ya, ini adalah hari perdana mereka masuk sekolah dan resmi menjadi keluarga besar sekolah yang berbasis tahfidz al-Qur’an.
Satu persatu siswa baru datang. Mereka diantar orangtua. Para guru menyambut mereka dengan hangat. Bahkan Ketua YAMI, Bapak. Ir. Muhammad Utama Jaya tak mau ketinggalan. Beliau ikut menyambut siswa dengan ditemani kepala sekolah dan guru.
Siswa tidak masuk kelas sendiri. Saat tiba di sekolah langsung disambut guru untuk melakukan serangkaian kegiatan sebelum masuk kelas: berfoto bersama orangtua dan finger tree. Seperti yang dilakukan Aisyah Azzahra.
Siswi baru kelas 1 Pi SD AISBA yang akrab disapa Aisyah diantar ustazah ke tempat finger tree. Aisyah mengenakan seragam dokter: jas putih dengan lambang IDI di depannya. Dia bercita-cita jadi dokter mengikuti jejak ayahnya, Listyono Wahid R yang sehari-hari bekerja di RS Balikpapan Baru.
“Aisyah mau warna apa?” tanya Ustazah Naja sambil menunjuk aneka tinta di atas meja.
Aisyah tak menjawab. Dia hanya melihat tinta dengan aneka warna itu di atas meja. Jari telunjuk kanannya yang mungil itu lalu mengambil tinta berwarna ungu. Tinta itu lalu dibubuhkan di atas lukisan ranting pohon yang indah di atas kanvas putih.
“Masyaa-Allah, indahnya,” tutur seorang guru melihat hasilnya. Sebuah lukisan pohon dengan daun tinta yang warna-warni.
Bekas tinta di telunjuk itu lalu dibersihkan oleh Ustazah Naja dengan tisu yang telah disediakan. Setelah itu, Aisyah diantar ke ruang kelas 1 Pi yang terletak di lantai dua gedung AISBA. Di kelas ini, sudah banyak temannya yang telah menunggu. Mereka tersenyum hangat menyambut kedatangannya.
Tak hanya Aisyah, siswa-siswa baru yang lainnya dari daycare hingga SMA juga sama: disambut dengan hangat dan diarahkan menuju ruang kelas masing-masing. Untuk siswa Daycare dan TK di lantai bawah, siswa SD lantai satu dan dua, siswa SMP di lantai tiga, sedangkan siswa SMA di lantai empat.
Kegiatan siswa baru di hari perdana masuk sekolah ini sama: Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Setiap sekolah punya tema berbeda. Tema MPLS SD “Prestasiku Dimulai Hari ini.” Sedangkan SMP, “Achieving Blessings Together with The Teachers.”
Kegiatan MPLS SMP dan SMA digabung jadi satu. Tempatnya di Aula Daarul Ilmi, Lantai 4. Kegiatanya banyak. Dari pembukaan dan sambutan Kepala SMP dan SMA AISBA, perkenalan guru, dan juga murid. Acara dilanjutkan dengan school tour, sosialisasi tata terbit sekolah hingga games menarik.
“Di awal menimba ilmu yang pertama harus dilakukan adalah meluruskan niat. Niat ini sangat penting. Di mana niat menuntut ilmu adalah karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujar Kepala SMP AISBA, Ustaz Abdul Rofik mengingatkan siswa.
Setali tiga uang kegiatan yang dilakukan oleh siswa-siswi baru SD AISBA. Kegiatan diawali pembukaan oleh kepala sekolah, Ustaz Randi Patajangan. Tempatnya di lapangan. Pada kegiatan juga dilakukan pengalungan name tag oleh guru pendamping setiap kelompok.
Seluruh siswa—sesuai kelas masing-masing—lalu diajak keliling sekolah (school tour): lantai satu dan dua serta berkeliling ke kelas, kantin, perpustakaan, dan ruang kepala sekolah. Saat berkeliling siswa berbaris dengan membantu kardus yang didesain mirip bus. Kardus itu dipegang di sebelah kanan dan kiri siswa.
“Semoga kegiatan perdana ini bisa mengakrabkan siswa baru dengan guru, teman, dan juga lingkungan sekolahnya. Sampai jumpa besok di hari MPLS kedua,” tutur Ketua MPLS SD AISBA, Ustazah Indah Yulianti.[]
Meneladani Nabi dengan Cerita [2]
Aula Darul Ilmi lantai 4 Gedung AISBA tampak berbeda pada medio Juli lalu. Ruangan yang cukup luas dan memanjang itu penuh oleh dua ratus lebih siswa SD AISBA. Bagian depan diisi oleh ikhwan. Sedangkan belakang akhwat.
Pandangan mereka tertuju ke panggung yang dilapisi karpet berwarna merah. Di atasnya berdiri Kaka Muhammad Amir. Dia adalah pendongeng anak Kota Balikpapan. SD AISBA mengundang Kak Amir—begitu biasa disapa—untuk mengisi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Temanya, “Al-Qur’an yang Mengubahku Jadi Lebih Baik.” Kak Amir tidak datang sendiri. Dia membawa bonekanya yang berbentuk burung. Seperti khas pendongeng anak lainnya, Kaka Amir bisa berbicara dengan beberapa nada. Kadang datar, tinggi, dan kadang kecil.
Suaranya acapkali seperti orang dewasa. Namun, tiba-tiba berubah seperti anak kecil. Berubah-ubah. Tergantung narasi yang dibawakan. Cara bercerita dan nada itulah yang membuat siswa tertarik dan tertawa melihatnya.
“Siapa yang kenal Nabi Muhammad?” tanyanya.
Ditanya seperti itu, dengan mengangkat tangan kanan, para siswa berebut menjawab, “Sayaaaaa….sayaaa!”
Kak Amir lalu melanjutkan pertanyaanya, “Apa akhlaknya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam” dan dijawabnya, “Akhlak Rasulullah itu adalah al-Qur’an. Seperti yang dijelaskan oleh istri beliau, Aisyah radhiyallahu ‘anha.”
Salah satu akhlak Rasulullah adalah suka memaafkan. Tidak suka marah apalagi dendam. Seperti peristiwa saat Nabi Muhammad hijrah ke Thaif. Di sana, lanjut Ka Amir, Rasulullah bukannya disambut dengan karpet merah, karangan bukan, dan tepuk tangan. Tidak.
“Tahu apa yang dialami Rasulullah? Rasulullah justru dicaci maki dan dilempari batu oleh anak-anak Thaif sampai berdarah,” jelasnya.
Tapi, lanjut ka Amir, waktu itu Rasulullah tidak marah apalagi membalas. Beliau justru memaafkan kesalahan umatnya. Karena itu, dia meminta para siswa untuk meneladani Rasulullah dengan memaafkan kesalahan temannya.
“Ada yang memaafkan seperti Rasulullah kalau saya lempar pakai botol ini?” tanya Kak Amir sambil tangan kanannya memegang botol dan siap melemparkannya.
Anehnya, tak sedikit para siswa yang angkat tangan. Mau dilempar. Bahkan ada yang berkata, “Saya mauuuuuu dilempar.” Namum, Ka Amir hanya mengetes saja. Tidak serius. Gara-gara itu, para siswa tertawa. Ruangan pun riuah oleh tawa.
Menurut Ketua Panitia MPLS SD AISBA, Ustazah Indah Yulianti kegiatan Cerita Bersama Ka Amir ini selain untuk menghibur siswa setelah sekitar sepekan mengikuti kegiatan MPLS, juga memberikan inspirasi dan ilmu kepada siswa melalui cerita.
“Kebanyakan orang Indonesia, apalagi anak-anak suka kalau mendengarkan cerita. Karena itu program ini mengajak siswa meneladani Nabi lewat cerita. Apalagi al-Qur’an berisi 70 persennya adalah kisah,” ujarnya.[]
Tawarkan Ekskul Lewat Pertunjukan [3]
Ustaz Faesal berdiri di pinggir lapangan. Mengenakan kaos dan celana khusus olahraga. Tangan kanannya memegang microphone. Sedangkan tangan kiri memegang gadget berisi daftar pertunjukan esktrakurikuler (ekskul) yang akan dilakukan oleh siswa.
“Siswa sekalian. SD AISBA punya beberapa ekskul yang bisa diikuti siswa. Hari ini kita akan melihat pertunjukan dari setiap ekskul itu. Silahkan dilihat. Dan, jika tertarik dan cocok, silahkan daftar,” jelas guru yang juga pengajar tahfidz al-Qur’an.
Usai menjelaskan tujuan parade ekskul medio Juli lalu, Ustaz Faesal—sapaan akrabnya—lalu memanggil dua siswa untuk unjuk kebolehan dalam bidang panahan: Ammar dan Auvar.
“Ini dia Ammar dan Auvar. Akan memperagakan cara memanah yang baik dan tepat,” jelasnya.
Keduanya lalu maju ke depan. Menghadap objek panahan yang berada beberapa meter di depan mereka lengkap dengan peralatan panahan: busur dan anak panah. Gagah. Seperti atlet panahan profesional. Sedangkan seluruh siswa melihat mereka dengan rasa penasaran.
Auvar dan Ammar lalu memasang anak panah ke tali busur. Keduanya menarik tali busur itu kuat-kuat. Dan….dalam hitungan detik anak panah melesat dan menancap di objek panahan. Tak cukup sekali, keduanya pun mempraktikkan cara memanah kepada siswa berkali-kali.
Usai pertunjukan panahan, Ustaz Fae kembali memanggil siswa untuk pertunjukan ekskul selanjutnya: english club. Ada dua siswa yang tampil ke depan: Luthfi dan Uwais Haafidz. Siswa yang juga siswa kelas 6 SD AISBA ini bertindak selalu master of ceremony yang mempersilahkan Uwais berpidato bahasa Inggris.
Siswa kelas 4 Pa ini lalu maju ke depan. Uwais berbicara tentang pentingnya sekolah. Katanya, sekolah adalah tempat spesial untuk meningkatkan bakat siswa dan menyiapkan masa depan.
“School is place to develop our talent and prepare for the future,” ujarnya.
Menanggapi pidato singkat bahasa Inggris Uwais, Luthfi lalu berkata singkat, “What a amazing speech.”
Pertunjukan ekskul selanjutnya adalah basketball. Menurut Ustaz Fae, pada tahun ajaran baru ini, SD AISBA memasukkan basketball sebagai salah satu ekskul yang harus diambil. Ada beberapa siswa yang melakukan pertunjukan ini, di antaranya Fathinah, Nadha, Nazya, dan Sabina. Mereka dipandu langsung oleh Ustazah Karina.
“Bagaimana ada yang tertarik ikut ekskul basket? Jika ada, silahkan nanti daftar, yah,” terang ustaz Fae.
Tak kalah menarik juga pertunjukan ekskul bahasa arab yang dilakukan oleh tiga siswi: Aisyah Humairoh, Aisyah El Rubi, dan Rindu Ayunda Chandra. Dua siswi—Rindu dan El Rubi—bertindak sebagai MC sedangkan Aisyah Humairo menyampaikan pidato berbahasa Arab.
“Hayya bina nusyahidu min ukhtina Aisyah Humairoh,” tutur keduanya.
Bisa ditebak. Pidato siswi kelas 6 SD AISBA yang langganan juara pidato—baik bahasa Indonesia maupun Arab—ini mencuri impresi para siswa. Lagi-lagi dia berpidato dengan aksen, intonasi, dan gesture yang memukau.
“Tholabul ilmu faridhatun ‘ala kulli muslim,” ucapnya menyitir sebuah hadis pentingnya belajar ilmu pengetahuan.
Usai pertunjukan, lagi-lagi Ustaz Fae menawarkan kepada siswa untuk memilih ekskul arabic club.
“Bagaimana, menarik bukan pertunjukan arabic tadi? Nah, jika kalian mau bisa berpidato dan berbicara dengan bahasa Arab sefasih mereka, jangan ragu untuk join ekskul arabic club,” kata ustaz Fae memotivasi.
Pertunjukan ekskul selanjutnya futsal. Ada sekitar siswa yang melakukannya. Kebanyakan adalah peserta ekskul futsal sebelumnya, seperti Abid, Nazran, Samir, Ahsan, dan lainnya.
Tak mau kalah dengan pertunjukan ekskul lainnya, mereka juga bermain futsal dengan sangat lincah. Menggocek dan menggiring bola hingga merobek gawang musuh.
Untuk pertunjukan eskul tapak suci diwakili oleh Fathan dan Asyam. Dengan mengenakan seragam tapak suci berwarna merah dan sabuk kuning, keduanya memperagakan jurus tapak suci. Sesekali badannya ke kanan dan kiri. Dibarengi dengan tangan yang memukul dan kaki menendang.
Pertunjukan ekskul terakhir adalah science club. Ekskul yang diasuh langsung oleh koordinator bidang kurikulum SD AISBA, Ustaz Rahmat Ramadhan ini melakukan pertunjukan pembuatan jembatan, kipas angin dari kayu, dan lava.
Adapun yang mempraktikkannya tiga siswi: Nabila, Namia, dan Putri. Semua pertunjukan berhasil. Khususnya kipas yang dirakit dari kayu itu bisa berputar kencang. Para siswa yang melihatnya pun terkesan dan terhibur.
“Demikianlah pertunjukan ekskul hari ini. Silahkan dipikir kira-kira ekskul apa yang cocok dan menarik buat siswa sekalian. Jangan lupa untuk memilih dan mendaftar,” ujar Ustaz Fae mengingatkan.
Tiga Kebutuhan Anak yang Harus Dipenuhi [4]
“Ada tiga kebutuhan anak yang harus dipenuhi orangtua,” tutur Ustaz Naspi Arsyad, Lc.
Tiga kebutuhan itu adalah ideologi, psikologi, dan biologis. Hanya saja, lanjut alumni Universitas Islam Madinah (UIM) Arab Saudi yang akrab disapa Ustaz Naspi ini, kebanyakan orangtua hanya fokus pada kebutuhan biologis.
“Tak sedikit orangtua yang fokus pada sandang, pangan, papan, bahkan kuota anak. Kebutuhan ini dianggap kebutuhan primer. Padahal sebenarnya bukan,” jelasnya.
Penjelasan itu disampaikan founder Komunitas Keluarga Cerdas (KCC) yang juga da’i nasional ini dalam acara Parenting dan Pertemuan Orangtua Murid dan Guru (POMG) SD-SMA AISBA pada 20 Juli lalu. Parenting ini dimoderatori Ustaz Syaiful Anshor.
Kata Ustaz Naspi, kebutuhan primer yang pertama harus diberikan kepada anak adalah kebutuhan ideologis: marifatu al rab. Artinya, pengetahuan tentang Tuhan. Aqidah.
“Inilah kebutuhan yang pertama kali harus diperhatikan orangtua kepada anak. Anak diajari membaca dengan nama Allah yang menciptakan. Agar mereka punya tauhid yang kuat,” jelasnya sambil mengutip ayat pertama surah al-‘Alaq.
Dalam kajian parenting yang berlangsung sekitar sejam itu, Ustaz Naspi menjelaskan ada dua masalah yang kerap terjadi pada orangtua dalam mendidik anak: ghuluw dan taqshir. Menurutnya ghuluw adalah berlebih-lebihan dalam mendidik anak.
Contohnya, mengajarkan anak terlalu percaya diri (overconfident) sampai menimbulkan perasaan riya dan sum’ah. Padahal, afirmasi positif yang terlalu berlebihan bisa melupakan kekuasaan Allah. Sebab, manusia sejatinya tak mampu apa-apa. Yang Mahakuasa adalah Allah Subahanahu Wa Ta’ala.
Sedangkan taqshir adalah mendidik buah hati sesukanya dengan cara meninggalkan sesuai yang penting karena kelalaian dan kejahilan seseorang. Seperti halnya taklid—mengikuti sesuatu yang tak punya nilai dan hawa nafsu.
Ustaz Naspi juga mengingatkan para ustaz dan ustazah untuk memperbaiki diri sebelum mengajar siswa. Seperti halnya yang dilakukan oleh Gubernur Irak, Utbah bin Ibnu Shofwan. Kala itu, katanya Utbah memanggil guru untuk mengajari anaknya.
“Apa yang dikatakan Utbah kepada calon guru anaknya? Dia meminta agar gurunya itu memperbaiki dirinya lebih dulu sebelum mengajar dan memperbaiki anaknya,” jelasnya.
Kegiatan Parenting POMG dihadiri oleh Kepala SMP, Ustaz Abdul Rofik dan Kepala SMA AISBA, Ustaz Mufilihin. Dalam sambutannya, Ustaz Rofik mengucapkan selamat datang kepada para siswa di sekolah. Dia juga meminta agar para siswa bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.
Sementara Ustaz Muflih mengucapkan rasa syukurnya karena SMA AISBA telah mendapatkan izin operasional dari Diknas Provinsi Kaltim. Dengan begitu, katanya, SMA AISBA bisa melakukan proses pembelajaran sekaligus ujian secara mandiri.
“Kemudahan ini selain karena kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga karena doa dan dukungan orangtua semua,” ucapnya.[]
Abu Raffa
2024-08-28 00:56:52