Mengapa Orang Tua Siswa Memilih AISBA?

img

Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBA) resmi melakukan kick off Penerimaan Siswa Baru (PSB) tahun ajaran baru 2025/2026 pada tanggal 26 Agustus 2024. Antusiasme orang tua siswa yang mendaftarkan buah hatinya cukup besar.

 

Lebih-lebih untuk pendaftar jenjang SD dan SMP. Animo pendaftar di dua sekolah yang lebih dulu berdiri di hari pertama melampui kuota cashback Rp 5 juta sekaligus. Menariknya, orang tua siswa yang mendaftarkan anaknya cukup beragam.

 

Calon siswa baru untuk tahun ajaran 2025 depan itu bukan saja dari orang tua siswa yang memiliki anak yang bersekolah di AISBA, tak sedikit pula yang berasal dari luar. Ini berarti keterkenalan dan akseptabilitas AISBA di tengah masyarakat Kota Balikpapan sudah kian besar.

 

Lalu, apa yang membuat para orang tua siswa memilih sekolah berbasis tahfidz al-Qur’an yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Imam Madinatul Iman (YAMI) Balikpapan ini? Dan, apa juga harapan para orang tua menyekolahkan anak ke AISBA? 

 

AN-NAJAH mencoba merangkumnya dalam rubrik Laporan Khusus pada edisi September 2024 ini spesial untuk para pembaca. Berikut ulasannya.* 

 

Air Mata, Brosur, dan Asa Orang Tua [1]

 

Bunda Reny duduk tenang. Pandangannya ke map hijau berisi berkas pendaftaran putrinya yang tergeletak di atas meja. Di depannya ustaz yang bertugas mewawancarai. Pagi beberapa bulan lalu, Bunda dua anak ini melakukan interview orang tua siswa.

 

Wawancara dilakukan di kelas 4 di lantai dua gedung AISBA untuk memastikan komitmennya menyekolahkan anak ke SD AISBA. Seperti biasa, ustaz yang bertugas interview mengawali dengan pertanyaan alasan memasukkan anaknya ke SD AISBA.

 

“Saya menyekolahkan anak saya di sini karena berharap nanti mereka jadi anak yang shalih dan shalihah,” jawabnya singkat tapi padat.

 

Saat itu, istri dari Bapak Alfian Rizky ini menyekolahkan dua anaknya di AISBA sekaligus. Anak yang pertama di SMP AISBA. Sedangkan yang kedua di SD AISBA. Sepintas pertanyaan itu sederhana. Namun, entah kenapa pertanyaan ini membuat pengusaha kuliner seafood ini sejenak termenung. 

 

“Selama ini kami selalu sibuk bekerja, Ustaz. Bekerja dari siang hingga kadang pulang jam 23.00 malam. Pulang anak-anak sudah terlelap tidur,” jawabnya dengan wajah tertunduk.

 

Saat menjawab itu, suaranya agak parau. Terlihat sedih. Bahkan, beberapa detik kemudian menangis. Sesunggukan. 

 

“Maaf, Ustaz. Saya ko jadi menangis seperti ini,” tambahnya.

 

Ternyata tangisan itu berasal dari perasaanya yang merasa bersalah kepada kedua anaknya. Sebab, menurutnya, selama ini dia dan suami merasa belum bisa memberikan pendidikan dan perhatian terbaik. Khususnya dalam pendidikan Islam. Juga waktu. Terlalu sibuk bekerja.

 

Padahal, Bunda Reny sadar tidak mudah mencetak anak yang shalih-shalihah seperti yang diinginkan oleh hampir semua orang tua yang baik. Salah satunya anak harus dapat bimbingan dan perhatian dari orang tua. Anak juga harus dibekali ilmu agama dan tauhid yang kuat. 

 

“Kami sadar. Selain sibuk bekerja, kami juga terbatas ilmu agamanya,” jelasnya lagi.

 

Kekhawatiran Bunda Reny kian bertambah saat melihat pergaulan di lingkungan sekitar kediamannya. Jika tidak di-filter dan dikontrol dengan baik bisa berdampak buruk bagi perkembangan anak. Selain itu juga paparan dampak negatif gadget

 

Karena melihat betapa sulitnya mendidik anak di era digital, Bunda Reny akhirnya memilih untuk menyekolah kedua anaknya di SD dan SMP AISBA. Menurutnya, visi-misi dan kurikulum sekolah yang terletak di Kawasan Bukit Cinta Damai (BCD) Balikpapan Kota ini sesuai yang diinginkannya. 

 

“Setelah tanya-tanya dan survei kami merasa cocok dengan AISBA dan akhirnya memelih sekolah ini untuk kedua anak kami,” ujarnya mantap.

 

Sekolah yang dicari Bunda Reny selama ini yang berkonsep full day school. Dari pagi sampai sore. Konsep sekolah seperti ini bisa membantu orang tua yang punya seabrek pekerjaan di luar. 

 

Selain itu, alasannya memilih AISBA karena pelajaran agama, tahfidz al-Qur’an, dan juga keteladanan yang diajarkan guru-guru di sekolah.

 

Bunda Reny juga berharap kelak jika lulus SD AISBA, paling tidak anaknya bisa hafal 5 juz al-Qur’an. Tidak hanya cakap ilmu umum, tapi juga bisa membaca al-Qur’an dengan tartil dan bagus. Lebih-lebih lagi jika bisa cas-cis-cus berbahasa Arab dan Inggris.

 

“Ma syaa Allah. Itu betul-betul harapan kami selaku orangtua,” imbuhnya.

 

Sebenarnya, selaku orang tua, lanjutnya, tidak banyak yang dituntut kepada anak. Kelak anak cukup jadi orang yang shalih-shalihah, berbakti kepada orang tua dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. 

 

Brosur PSB

 

Perkenalan Bapak Jundi Rahmad Danny dengan AISBA cukup unik. Berawal dari peristiwa unik sekitar 9 tahun silam. Saat itu, Ayah dua anak ini hendak makan di sebuah rumah makan. Dia pun memilih meja yang kosong. 

 

Usai duduk, tiba-tiba pandangannya tertuju kepada brosur Penerimaan Siswa Baru (PSB) sebuah sekolah tergeletak di atas meja di depannya. Karena penasaran, bos Inkorincorp Holding Invesment Group ini mengambilnya. 

 

Ternyata brosur PSB itu milik Al-Imam Islamic School Balikpapan (AISBA). Sekolah baru. Ayah dari Prawira Yazzard Pramudya dan Alem Zeroun Al-Ghifari—penasaran. Ingin mengetahuinya lebih jauh.

 

Apalagi, saat itu—9 tahun yang silam—Bapak Jundi sedang mencari sekolah untuk putra pertamanya, Wira. Gayung bersambut. Langsung survei. Saat itu, AISBA masih menempati ruko kecil di kompleks Masjid Namirah. Dari sisi gedung, tidak meyakinkan. Masih kalah dengan sekolah-sekolah Islam lainnya.

 

“Namun, setelah interview dan melihat kurikulumnya saya yakin. In syaa-Allah, AISBA pilihan yang tepat untuk anak saya,” ujarnya kepada AN-NAJAH di ruang kantornya beberapa waktu lalu.

 

Benar saja. Setelah Wira—begitu putra pertamanya disapa—bersekolah di SD AISBA, dia merasa perubahan anaknya. Akhlaknya makin bagus. Imannya juga kuat. Aktivitas hariannya lebih tertata. Wira dinilai tumbuh jadi anak yang selama ini diinginkan orang tua. 

 

Tumbuh Sesuai Ekspektasi

 

Karena bahagia dengan perkembangan anaknya, beliau menyekolahkan anak keduanya, Zeroun ke SD lagi. Kini, Wira telah duduk di bangku kelas 9 SMP AISBA. Sedangkan adiknya telah duduk di kelas 3 Pa SD AISBA. Bahkan, katanya, dia juga akan memasukkan calon anaknya yang ketiga.

 

“Anak saya ketiga yang sebentar lagi akan lahir juga In syaa Allah akan saya masukkan juga ke SD AISBA,” ujarnya. 

 

Tak hanya menyekolahkan anak ke SD dan SMP AISBA, Bapak Jundi juga mengarahkan para karyawannya untuk memasukkan anaknya ke AISBA. Tak main-main. Katanya, jika ada yang tidak taat, maka siap-siap akan dikeluarkan dari perusahaan.

 

“Serius ini. Supaya anak-anak mereka di AISBA tidak hanya belajar pelajaran umum, tapi juga belajar agama dan tahfidz al-Qur’an,” jelasnya.

 

Bukan tanpa alasan Bapak Jundi melakukan itu. Sebab, menurutnya, kualitas pendidikan AISBA sudah teruji. Lebih-lebih sekarang menempati gedung baru yang lebih representatif dan modern di kawasan Bukit Cinta Damai (BCD), Balikpapan Kota.

 

“Selain gedungnya sudah representatif, guru-gurunya juga profesional dan berdedikasi tinggi. In syaa Allah, AISBA dapat menjawab ekspektasi dan cita-cita orang tua,” tambahnya.

 

Senada dirasakan Bunda Reny. Dia berharap, AISBA dapat mewujudkan asa para orangtua untuk memiliki anak yang shalih dan shalihah. Harapan itu dia sampaikan saat interview orangtua siswa beberapa bulan lalu.

 

Agama Dapat, Umum Tak Ketinggalan [2]

 

Nauqah Jihada Azzam dan Nauroh Syahidah Azzam masygul. Penyebabnya soal pendidikan. Bingung mau melanjutkan SMA kemana? Sebab, saat mondok di pesantren keduanya hanya fokus belajar agama dan hafalan al-Qur’an. Kurang ilmu umumnya.

 

Padahal, menurut kedua bersaudara kembar, bercadar, dan hafal al-Qur’an ini ilmu agama saja belum cukup. Pelajaran umum—matematika, sains, dan lainnya—juga bahasa Inggris penting. Bisa menopang cita-cita di masa depan. Agar tidak timpang. 

 

“Kelak, saya ingin mendirikan pesantren yang modern dan berkualitas. Tidak hanya unggul di bidang agama dan tahfidz al-Qur’an saja,” ujarnya kepada AN-NAJAH Juli lalu.

 

Keinginan itu disampaikan kepada ayahnya, Ustaz Muhammad Nasrullah. Gayung bersambut. Ayahnya setuju. Dia pun menyarankan agar kedua anaknya melanjutkan ke SMA AISBA. Ternyata, selama ini Ustaz Nasrul—sapaan akrabnya—telah mengetahui AISBA. Konsep integrasi pendidikannya sesuai yang diinginkan. 

 

“Saat itu kami melihat visi-misi dan nilai yang diusung SMA AISBA sejalan dengan nilai-nilai keluarga yang kami anut,” ujar Bapak Nasrullah kepada AN-NAJAH.

 

Tanpa menunggu lama mereka langsung survei ke sekolah. Keduanya anak dan istrinya diajak untuk melihat sekolah langsung. Dia pun makin tertarik setelah mendapat penjelasan kurikulum dan program sekolah dari Kepala SMA AISBA, Ustaz Muflihin.

 

“Kami dijelaskan program-program unggulan yang ditawarkan oleh sekolah. Ini sangat menarik bagi kami. Dari pengembangan bahasa Arab dan Inggris yang intensif hingga kegiatan ekstrakurikuler yang beragam,” tambahnya.

 

Bukan hanya itu yang membuatnya melabuhkan hatinya ke SMA AISBA. Menurutnya, selain berbasis agama dan tahfidz al-Qur’an, sekolah ini juga berbasis karakter dan dilengkapi berbagai program untuk mengembangkan aspek spiritual dan akademik secara seimbang dan bersama. 

 

Meski full day school, dia melihat lingkungan yang didesain oleh sekolah lebih bernuansa islami dan kepesantrenan. Hal itu bisa dilihat dari program, kegiatan, materi, serta para pengajar yang berkompeten dan sesuai bidangnya.

 

“Dengan begitu kami berharap dengan bersekolah di sini anak kami tumbuh jadi individu yang berkarakter Islami, berakhlak mulia dan berpengetahuan luas,” pungkasnya. 

 

Bukan hanya Ustaz Nasrul, visi-misi sekolah juga jadi alasan bagi Bapak Rantoe Marindha menyekolahkan dua putrinya di AISBA: Khaliqa Aisyah Marindha ( 7 Pi) dan Khadijah Azzahra Marindha (2-Pi). 

 

“Kenapa kami memilih AISBA untuk putri kami? Salah satunya karena visi-misinya yang sejalan dengan apa yang kami cari,” ujarnya kepada AN-NAJAH awal Agustus lalu.

 

Selain visi-misi, hal lain yang membuatnya memilih sekolah ini adalah delapan mutu out put dan support system sekolah. Dia menilai hal itu sudah cukup baik untuk menunjung proses pembelajaran di luar rumah.

 

Lebih jauh, menurutnya AISBA memberikan referensi pendidikan yang holistik: tidak hanya ilmu duniawi, tapi juga ukhrowi. Keduanya penting agar anak selamat dan sukses dunia dan akhirat. 

 

Senada disampaikan Bapak Sy Arif Mufti. Orang tua siswi kelas 10 SMA AISBA, Naurah Izzati Syahidah juga memilih SMA AISBA karena merasa cocok dengan konsep yang ditawarkan sekolah. Itu kenapa, usai lulus SMP AISBA tahun 2024 ini, dia memasukkan putri ke SMA AISBA. 

 

Menurutnya, kurun waktu tiga tahun anaknya bersekolah di SMP AISBA jadi bukti perkembangan anaknya yang cukup baik. Sesuai yang diinginkan. Itu kenapa, dia yakin di SMA AISBA yang baru dibuka tahun 2024 itu juga akan mengalami perkembangan signifikan.

 

“AISBA memiliki prinsip bahwa sekolah yang baik adalah yang mampu menghadirkan pendidikan karakter (akhlak) yang diimbangi dengan menumbuhkan kecerdasan unik yang dimiliki setiap anak,” ujarnya kepada AN-NAJAH medio Agustus lalu.

 

Selama ini, dia melihat, Naura—sapaan akrabnya—memiliki kecakapan berkomunikasi dengan sangat baik. Juga punya rasa percaya diri. Tidak malu tampil di depan publik.

 

In syaa Allah, AISBA menjadi role model pendidikan di Balikpapan, kota Madinatul Iman,” ujarnya berharap.

 

Mendukung Bakat Anak

 

Alasan lain disampaikan Bunda Tuty Nurijan. Menurutnya, selain keberimbangan antara pelajaran diniyah dan akademik, SD AISBA juga tetap memberikan ruang kepada siswa untuk berprestasi di bidang non akademik.

 

Hal itu dibuktikan dengan berbagai macam opsi kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang disediakan. Mulai panahan, futsal, basket, bela diri tapak suci, hingga berenang. Tidak hanya itu, sekolah juga mendorong siswa untuk ikut dan berprestasi di luar sekolah.

 

Alhamdulillah, pihak sekolah memberikan dukungan penuh kepada anak kami yang ingin berprestasi non akademik yaitu dalam bidang olahraga,” ujarnya.

 

Prestasi di bidang olah raga pun dibuktikan oleh ketiga putrinya yang kini duduk di bangku SD AISBA: Queensha Afifah Arretawibowo (4 Pi), Queensha Almahyra Nadhirawibowo (2 Pi), dan Kaylila Fahira Haftawibowo (1 Pi).

 

Ketiganya telah banyak mengukir prestasi di bidang bela diri Wushu baik tingkat lokal maupun nasional. Yang terbaru Juli 2024 lalu putri pertamanya, Queensha Afifah Arretawibowo berhasil meraih gold medal dalam lomba Balikpapan Multi Event 2024.

 

“Saya berterima kasih juga untuk para pengajar di AISBA yang sabar dan dapat memetakan kemampuan anak sehingga anak-anak terus termotivasi meningkatkan keunggulannya tanpa meninggalkan kelemahannya,” jelasnya.

 

Pengalaman lain didapatkan Bunda Desy Famalia saat menyekolahkan putra pertamanya, Dzakky Nizam Maulana selama enam tahun di SD AISBA. Yang membuatnya tertarik AISBA memiliki tenaga pendidik yang berkompeten. Tidak hanya mampu mendidik dan membimbing, tapi juga sangat santun, ramah, dan perhatian kepada anak.

 

“Teladan ini bisa jadi contoh yang baik bagi anak. Hal itu juga bisa membuat anak betak belajar full day school tanpa bosan dari pagi sampai sore,” tuturnya.

 

Bunda Desy juga menilai proses pembelajaran di AISBA tidak sekadar melakukan transfer ilmu (transfer of knowledge), tapi juga transfer of values dan kebaikan. Proses inilah yang menurutnya ada jejak-jejak kebaikan dan keberkahan yang sengaja akan ditinggalkan oleh para pendidik.

 

Itu kenapa, usai Nizam lulus SD AISBA tahun 2024 ini langsung memasukkannya ke SMP AISBA. Dia juga berharap agar AISBA terus maju, jadi pilihan para orang tua, berlandaskan al-Qur’an dan As Sunnah, serta dapat menghasilkan generasi cerdas dan berakhlak mulia. [] 

 

Ket: Untuk membaca berita dan artikel lainnya terkait AISBA silahkan klik link majalah AN-NAJAH edisi September 2024 ini: https://bit.ly/AnNajahSeptember2024 .

 

Abu Raffa

2024-09-12 03:12:16